Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Masalah menjadi KECIL
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Laut Merah Jadi Terbelah
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Kuasa-Kuasa Gelap Gemetar, Takut dan Lari
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Penyakit-Penyakit Akan Hilang
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Gunung-gunung Dipindahkan ke Lautan
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Belenggu-Belenggu Akan Diputuskan
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Kegelapan Dilenyapkan Oleh Terang
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Jawaban Datang Dengan Mudah
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Kebingungan Terangkat dan Petunjuk Datang
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Orang Kristen yang Paling Lemah Menjadi Kuat
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Batu di Padang Gurun Dapat Memancarkan Air
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Janda-Janda dan Anak Yatim Terlindungi
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Maut Kehilangan Sengatnya
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Berhala-Berhala Roboh
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Tembok-tembok Akan Runtuh
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Badai Hidup Akan Reda
Jika TUHAN dipandang BESAR.....Maka Tidak Ada Musuh yang Dapat Melawan
Saudara yang Kristus kasihi...Dimanakah kita
menempatkan TUHAN selama ini...TUHAN yang Besar atau TUHAN yang Tidak
Berdaya....Tuhan yang Maha Kuasa atau Tuhan yang Terbatas....
Tuhan tidak bisa bekerja didalam diri kita apabila kita tidak percaya
terhadapNYA, seperti kata Alkitab ....., “Karena mereka tidak percaya,
tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ.” (Mat. 13:58)
“Sesungguhnya aku tahu, bahwa TUHAN itu maha besar dan Tuhan kita itu melebihi segala allah. (Mazmur 135:5)
Rabu, 03 Oktober 2012
JANGAN LUPAKAN TUHAN ALLAHMU !!!
Betapa mudahnya kita melupakan apa yang Tuhan kerjakan bagi kita.
Kita lupa.....bagaimana DIA menyelamatkan kita dan melepaskan kita dari maut
Kita Lupa...bagaimana DIA melepaskan kita dari kecanduan kita
Kita lupa.....bagaimana DIA menyembuhkan penyakit kita
Kita lupa.....bagaimana DIA mengangkat kita dari kehidupan yang hina
Kita lupa.....bagaimana DIA membuat mujizat-mujizat dalam kehidupan kita
Kita lupa.....bagaimana kemurahan kasihNYA
Kita lupa.....bagaimana DIA melupakan kesalahan dan pelanggaran kita
Kita lupa.....bagaimana DIA memberikan kita suami/istri yang baik dan anak-anak bagi kita
Kita lupa.....bagaimana DIA menolong kita dalam kesesakan
Kita lupa.....bagaimana DIA melepaskan kita dari segala kesulitan kita
Kita lupa.....atas segala harta benda yang telah DIA berikan pada kita
Kita lupa.....janji-janji/nazar yang kita ucapkan padaNYA disaat kesusahan kita
Sobat .....di hari yang baru ini marilah kita mengingat kembali....apa yang telah Tuhan perbuat dalam kehidupan kita dan keluarga kita....Marilah kita mengubah jalan-jalan kita dan mengarahkan pandangan pada kebesaran dan kebaikanNYA. Mari kita renungkan kuasaNYA dan keagunganNYA yang mempesona. Beritakanlah segala perbuatanNYA yang ajaib, yang pernah kita terima. Ingatkan diri kita akan siapa yang kita layani.......TUHAN SEMESTA ALAM.
“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ulangan 4:9)
Kita lupa.....bagaimana DIA menyelamatkan kita dan melepaskan kita dari maut
Kita Lupa...bagaimana DIA melepaskan kita dari kecanduan kita
Kita lupa.....bagaimana DIA menyembuhkan penyakit kita
Kita lupa.....bagaimana DIA mengangkat kita dari kehidupan yang hina
Kita lupa.....bagaimana DIA membuat mujizat-mujizat dalam kehidupan kita
Kita lupa.....bagaimana kemurahan kasihNYA
Kita lupa.....bagaimana DIA melupakan kesalahan dan pelanggaran kita
Kita lupa.....bagaimana DIA memberikan kita suami/istri yang baik dan anak-anak bagi kita
Kita lupa.....bagaimana DIA menolong kita dalam kesesakan
Kita lupa.....bagaimana DIA melepaskan kita dari segala kesulitan kita
Kita lupa.....atas segala harta benda yang telah DIA berikan pada kita
Kita lupa.....janji-janji/nazar yang kita ucapkan padaNYA disaat kesusahan kita
Sobat .....di hari yang baru ini marilah kita mengingat kembali....apa yang telah Tuhan perbuat dalam kehidupan kita dan keluarga kita....Marilah kita mengubah jalan-jalan kita dan mengarahkan pandangan pada kebesaran dan kebaikanNYA. Mari kita renungkan kuasaNYA dan keagunganNYA yang mempesona. Beritakanlah segala perbuatanNYA yang ajaib, yang pernah kita terima. Ingatkan diri kita akan siapa yang kita layani.......TUHAN SEMESTA ALAM.
“Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu” (Ulangan 4:9)
Lembah Kekelaman
Lembah kekelaman seringkali terjadi pada saat kita mulai ragu. Persoalan
hidup dapat dengan mudah membayangi iman kita. Masalah-masalah seperti
kematian orang yang dikasihi, tragedi, kesulitan keuangan, kejatuhan
hamba Tuhan yang disukai, di pecat dari pekerjaan, di vonis menderita
penyakit yang berat oleh dokter, mengalami musibah, kecelakaan yang
menghancurkan hidup kita, keretakan dalam rumah tangga, pasangan yang
tidak setia. Semua itu dapat menyeret kita ke dalam lembah kekelaman.
Di dalam lembah kekelaman ini, semuanya menjadi tidak jelas......terang dan kegelapan bercampur baur, iman dan ketidak percayaan berperang. Di lembah mengerikan inilah iman kita bisa goyah, dan kita berhadapan langsung dengan kelemahan moral kita. Di lembah kekelaman inilah bisikan iblis terdengar begitu nyaring terdengar di telinga kita. Iblis berkata, “Dimanakah Allahmu ??? Allahmu tidak sanggup menolongmu ??? Allahmu tidak mau menolongmu ??? Allahmu tidak mencintaimu Ialah penyebab semua masalah ini ???”
Disaat melewati lembah kekelaman ini, kita harus memandang keatas dan tidak menoleh kebelakang. Kita harus bersandar padaNYA...kekuatan DIAlah yang memampukan kita.....bukan kekuatan kita. Kita harus menutup telinga kita terhadap perkataan iblis dan katakanlah kepadanya, “enyahlah engkau puntung yang ditarik dari api...roh-roh yang miskin dan hina...Allahku selalu besertaku, IA tidak pernah membiarkan aku seorang diri”
Kita harus percaya bahwa Tuhan sedang berkarya bagi kita dan sedang menyusun rencana untuk menyelamatkan kita. Kita harus berkata, “aku tidak takut bahaya, sebab gada dan tongkatMu itulah yang menghibur aku”. Iman......bukanlah percaya bahwa kita bisa mengeluarkan diri dari lembah ini; Iman......percaya bahwa Dia sanggup melepaskan kita..... Bukan kepercayaan diri yang mengatasi angin dan ombak, tetapi iman didalam Tuhanlah yang mengatasi angin dan ombak.
Pada saat kita berserah dan percaya padaNya, pada saat itulah Tuhan melawat kita dan menyelamatkan kita. Kalau kita mau berseru kepadaNya dengan segenap hati. GadaNya dan tongkatnya akan menghibur kita. Dia akan menyediakan makanan bagi kita di hadapan musuh-musuh kita dan mengurapi kita dengan minyak baru.
"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?
Di dalam lembah kekelaman ini, semuanya menjadi tidak jelas......terang dan kegelapan bercampur baur, iman dan ketidak percayaan berperang. Di lembah mengerikan inilah iman kita bisa goyah, dan kita berhadapan langsung dengan kelemahan moral kita. Di lembah kekelaman inilah bisikan iblis terdengar begitu nyaring terdengar di telinga kita. Iblis berkata, “Dimanakah Allahmu ??? Allahmu tidak sanggup menolongmu ??? Allahmu tidak mau menolongmu ??? Allahmu tidak mencintaimu Ialah penyebab semua masalah ini ???”
Disaat melewati lembah kekelaman ini, kita harus memandang keatas dan tidak menoleh kebelakang. Kita harus bersandar padaNYA...kekuatan DIAlah yang memampukan kita.....bukan kekuatan kita. Kita harus menutup telinga kita terhadap perkataan iblis dan katakanlah kepadanya, “enyahlah engkau puntung yang ditarik dari api...roh-roh yang miskin dan hina...Allahku selalu besertaku, IA tidak pernah membiarkan aku seorang diri”
Kita harus percaya bahwa Tuhan sedang berkarya bagi kita dan sedang menyusun rencana untuk menyelamatkan kita. Kita harus berkata, “aku tidak takut bahaya, sebab gada dan tongkatMu itulah yang menghibur aku”. Iman......bukanlah percaya bahwa kita bisa mengeluarkan diri dari lembah ini; Iman......percaya bahwa Dia sanggup melepaskan kita..... Bukan kepercayaan diri yang mengatasi angin dan ombak, tetapi iman didalam Tuhanlah yang mengatasi angin dan ombak.
Pada saat kita berserah dan percaya padaNya, pada saat itulah Tuhan melawat kita dan menyelamatkan kita. Kalau kita mau berseru kepadaNya dengan segenap hati. GadaNya dan tongkatnya akan menghibur kita. Dia akan menyediakan makanan bagi kita di hadapan musuh-musuh kita dan mengurapi kita dengan minyak baru.
"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?
Jumat, 07 September 2012
PELAJARAN DARI SEBUAH KESOMBONGAN
Seorang
Ibu Sangat Gembira Ketika Menerima Telegram Dari Anaknya Yang Telah
Bertahun-Tahun Menghilang. Apalagi Ia Adalah Anak Satu-Satunya.
Maklumlah Anak Tersebut Pergi Ditugaskan Perang Ke Vietnam Pada 4 Tahun
Yang Lampau Dan Sejak 3 Tahun Yang Terakhir, Orang Tuanya Tidak Pernah
Menerima Kabar Lagi Dari Putera Tunggalnya Tersebut. Sehingga Diduga
Bahwa Anaknya Gugur Dimedan Perang. Anda Bisa Membayangkan Betapa
Bahagianya Perasaan Ibu Tersebut. Dalam Telegram Tersebut Tercantum
Bahwa Anaknya Akan Pulang Besok.
Esok Harinya Telah Disiapkan
Segalanya Untuk Menyambut Kedatangan Putera Tunggal Kesayangannya,
Bahkan Pada Malam Harinya Akan Diadakan Pesta Khusus Untuk Dia, Dimana
Seluruh Anggota Keluarga Maupun Rekan-Rekan Bisnis Dari Suaminya
Diundang Semua. Maklumlah Suaminya Adalah Direktur Bank Besar Yang
Terkenal Diseluruh Ibukota.
Siang Harinya Si Ibu Menerima Telepon Dari Anaknya Yang Sudah Berada Di Airport.
Si Anak: “Bu Bolehkah Saya Membawa Kawan Baik Saya?”
Ibu: “Oh Sudah Tentu, Rumah Kita Cuma Besar Dan Kamarpun Cukup Banyak, Bawa Saja, Jangan Segan-Segan Bawalah!”
Si Anak: “Tetapi Kawan Saya Adalah Seorang Cacat, Karena Korban Perang Di Vietnam.”
Ibu: “……Oooh Tidak Jadi Masalah, Bolehkah Saya Tahu, Bagian Mana Yang Cacat?” – Nada Suaranya Sudah Agak Menurun
Si Anak: “Ia Kehilangan Tangan Kanan Dan Kedua Kakinya!”
Si Ibu Dengan Nada Agak Terpaksa, Karena Si Ibu Tidak Mau Mengecewakan
Anaknya: “Asal Hanya Untuk Beberapa Hari Saja, Saya Kira Tidak Jadi
Masalah..”
Si Anak: “…Tetapi Masih Ada Satu Hal Lagi Yang Harus Saya
Ceritakan Sama Ibu, Kawan Saya Itu Wajahnya Juga Rusak.. Begitu Juga
Kulitnya, Karena Sebagian Besar Hangus Terbakar, Maklumlah Pada Saat Ia
Mau Menolong Kawannya Ia Menginjak Ranjau, Sehingga Bukan Tangan Dan
Kakinya Saja Yang Hancur Melainkan Seluruh Wajah Dan Tubuhnya Turut
Terbakar!”
Si Ibu Dengan Nada Kecewa Dan Kesal: “Nak, Lain Kali Saja
Kawanmu Itu Diundang Ke Rumah Kita, Untuk Sementara Suruh Saja Tinggal
Di Hotel, Kalau Perlu Biar Ibu Yang Bayar Nanti Biaya Penginapannya..”
Si Anak: “…Tetap Ia Adalah Kawan Baik Saya Bu, Saya Tidak Ingin Pisah Dari Dia!”
Si Ibu: “Coba Renungkan Nak, Ayah Kamu Adalah Seorang Konglomerat Yang
Ternama Dan Kita Sering Kedatangan Tamu Para Pejabat Tinggi Maupun
Orang-Orang Penting Yang Berkunjung Ke Rumah Kita, Apalagi Nanti Malam
Kita Akan Mengadakan Perjamuan Malam Bahkan Akan Dihadiri Oleh Seorang
Menteri, Apa Kata Mereka Apabila Mereka Nanti Melihat Seorang Anak
Dengan Tubuh Yang Cacat Dan Wajah Yang Rusak.
Bagaimana Pandangan
Umum Dan Bagaimana Lingkungan Bisa Menerima Kita Nanti? Apakah Tidak
Akan Menurunkan Martabat Kita Bahkan Jangan-Jangan Nanti Bisa Merusak
Citra Binis Usaha Dari Ayahmu Nanti.”
Tanpa Ada Jawaban Lebih Lanjut Dari Anaknya Telepon Diputuskan Dan Ditutup.
Orang Tua Dari Kedua Anak Tersebut Maupun Para Tamu Menunggu Hingga
Jauh Malam Ternyata Anak Tersebut Tidak Pulang, Ibunya Mengira Anaknya
Marah, Karena Tersinggung, Disebabkan Temannya Tidak Boleh Datang
Berkunjung Ke Rumah Mereka.
Jam Tiga Subuh Pagi, Mereka Mendapat
Telepon Dari Rumah Sakit, Agar Mereka Segera Datang Ke Sana, Karena
Harus Mengidetifitaskan Mayat Dari Orang Yang Bunuh Diri. Mayat Dari
Seorang Pemuda Bekas Tentara Vietnam, Yang Telah Kehilangan Tangan Dan
Kedua Kakinya Dan Wajahnyapun Telah Rusak Karena Kebakar. Tadinya Mereka
Mengira Bahwa Itu Adalah Tubuh Dari Teman Anaknya, Tetapi Kenyataannya
Pemuda Tersebut Adalah Anaknya Sendiri! Untuk Membela Nama Dan Status
Akhirnya Mereka Kehilangan Putera Tunggalnya!
Tidak Mudah Untuk
Menerima Seseorang Dengan Segala Kekurangannya. Akui Saja, Tidak Ada
Manusia Yang Sempurna. Apakah Kita Mau Berkawan Dengan Para Pendosa,
Dengan Kehidupan Hina Dan Kotor ?
Tuhan Mau Menerima Siapapun Yang
Datang Kepadanya, Mengapa Kita Manusia, Yang Derajatnya Lebih Rendah
Dari Tuhan, Seakan Menolak Segala Kekurangan Manusia Lain ?
Sumber : https://www.facebook.com/daniel.iswahyudi/posts/4175330112912?notif_t=feed_comment_reply
Selasa, 28 Agustus 2012
BELAJAR DARI PERWIRA KAPERNAUM
Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu
seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah
hambanya." - Matius 8:13
Ketika kita atau salah seorang keluarga kita sedang sakit atau perlu didoakan, cukupkah kita minta didoakan jarak jauh? Ada banyak orang yang merasa kurang afdol jika hanya didoakan jarak jauh. Kalau tidak datang langsung, tumpang tangan, dijamah, mujizat rasanya tidak akan bisa terjadi. Kalau bukan oleh pendeta yang top kesembuhan rasanya tidak mungkin terjadi. Kesembuhan atau mujizat lainnya menjadi bukan berasal dari Tuhan, namun tergantung dari manusianya, pendetanya. Ini adalah pola pikir yang sudah menyimpang. Kita bisa belajar dari kisah seorang perwira Kapernaum yang mendatangi Yesus.
Mari kita baca Matius 8:5-13. Di sana dikisahkan ketika Yesus memasuki Kapernaum, ada seorang perwira yang menjumpaiNya. Si perwira ternyata ingin minta tolong atas nama salah seorang pelayannya yang saat itu terbaring di rumah karena lumpuh. "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." (Matius 8:6). Mendengar hal itu, Yesus pun menjawab "Aku akan datang menyembuhkannya." (ayat 7).
Bayangkan jika kita ada di posisi sang perwira Kapernaum, apa reaksi kita? Mungkin kita akan berteriak kegirangan, menarik tangan Yesus untuk secepatnya mendatangi rumah kita, menumpang tangan atas si pelayan, mendoakannya langsung di tempat bahkan mungkin menahan Yesus di sana hingga mujizat terjadi. Tapi lihatlah apa reaksi perwira Kapernaum. Tetapi jawab perwira itu kepada Yesus : "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh." (ayat 8).
Iman si perwira begitu luar biasa. Dia ternyata percaya bahwa Tuhan punya kuasa yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Mujizat bukan terjadi semata-mata akibat perjumpaan langsung, jamahan, tumpang tangan atau apapun yang dilakukan orang, namun semua itu adalah berasal dari Tuhan. Artinya, kapanpun, dimanapun, dengan cara apapun, mujizat itu bisa terjadi, karena sekali lagi, kuasa Tuhan berada di atas segalanya dan tidak terbatas oleh apapun.
Kembali pada kisah perwira Kapernaum, iman perwira itu membuat Yesus kagum. Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. (ayat 13).
Lewat sepatah kata, Yesus sanggup menyembuhkan orang yang sedang tergeletak jauh di sana. Sang Perwira percaya itu, dan itulah yang terjadi, sesuai apa yang ia percayai. Inilah bentuk iman yang mampu menyaksikan turunnya mujizat Tuhan. Iman mampu membuat perbedaan.
Penulis Ibrani menulis demikian: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1).
Dan Yesus berkata: "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:29b).
Meski kita belum melihatnya, seperti halnya perwira Kapernaum yang saat itu masih jauh dari rumahnya dan belum mengetahui apakah hambanya sudah sembuh saat itu juga atau belum, namun imannya membuatnya yakin bahwa itu telah terjadi meski belum melihat langsung. Dalam ayat 13 tadi kita bisa membaca apa yang terjadi. Ya, hambanya memang sembuh saat itu juga!
Iman yang teguh akan membuat kita bisa menerima berkat dan mujizat Tuhan. Bukan atas kehebatan manusia, melainkan iman akan Kristus-lah yang menyelamatkan.
Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:23-24).
Percaya dalam iman yang teguh, maka kita akan menerima. Kemudian ingatlah bahwa semua itu haruslah sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak kita. "Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya." (1 Yohanes 5:14-15). Itu janji Tuhan dan kita tahu janji Tuhan itu "ya dan amin".
Belajar dari iman perwira Kapernaum hari ini, milikilah iman yang sungguh-sungguh, dan percayalah sepenuhnya pada Tuhan. Jangan menggantungkan diri kepada sosok manusia yang terbatas, tapi berpeganglah pada Tuhan yang punya kuasa di atas segalanya.
"Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya."
Ketika kita atau salah seorang keluarga kita sedang sakit atau perlu didoakan, cukupkah kita minta didoakan jarak jauh? Ada banyak orang yang merasa kurang afdol jika hanya didoakan jarak jauh. Kalau tidak datang langsung, tumpang tangan, dijamah, mujizat rasanya tidak akan bisa terjadi. Kalau bukan oleh pendeta yang top kesembuhan rasanya tidak mungkin terjadi. Kesembuhan atau mujizat lainnya menjadi bukan berasal dari Tuhan, namun tergantung dari manusianya, pendetanya. Ini adalah pola pikir yang sudah menyimpang. Kita bisa belajar dari kisah seorang perwira Kapernaum yang mendatangi Yesus.
Mari kita baca Matius 8:5-13. Di sana dikisahkan ketika Yesus memasuki Kapernaum, ada seorang perwira yang menjumpaiNya. Si perwira ternyata ingin minta tolong atas nama salah seorang pelayannya yang saat itu terbaring di rumah karena lumpuh. "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." (Matius 8:6). Mendengar hal itu, Yesus pun menjawab "Aku akan datang menyembuhkannya." (ayat 7).
Bayangkan jika kita ada di posisi sang perwira Kapernaum, apa reaksi kita? Mungkin kita akan berteriak kegirangan, menarik tangan Yesus untuk secepatnya mendatangi rumah kita, menumpang tangan atas si pelayan, mendoakannya langsung di tempat bahkan mungkin menahan Yesus di sana hingga mujizat terjadi. Tapi lihatlah apa reaksi perwira Kapernaum. Tetapi jawab perwira itu kepada Yesus : "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh." (ayat 8).
Iman si perwira begitu luar biasa. Dia ternyata percaya bahwa Tuhan punya kuasa yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Mujizat bukan terjadi semata-mata akibat perjumpaan langsung, jamahan, tumpang tangan atau apapun yang dilakukan orang, namun semua itu adalah berasal dari Tuhan. Artinya, kapanpun, dimanapun, dengan cara apapun, mujizat itu bisa terjadi, karena sekali lagi, kuasa Tuhan berada di atas segalanya dan tidak terbatas oleh apapun.
Kembali pada kisah perwira Kapernaum, iman perwira itu membuat Yesus kagum. Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. (ayat 13).
Lewat sepatah kata, Yesus sanggup menyembuhkan orang yang sedang tergeletak jauh di sana. Sang Perwira percaya itu, dan itulah yang terjadi, sesuai apa yang ia percayai. Inilah bentuk iman yang mampu menyaksikan turunnya mujizat Tuhan. Iman mampu membuat perbedaan.
Penulis Ibrani menulis demikian: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1).
Dan Yesus berkata: "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yohanes 20:29b).
Meski kita belum melihatnya, seperti halnya perwira Kapernaum yang saat itu masih jauh dari rumahnya dan belum mengetahui apakah hambanya sudah sembuh saat itu juga atau belum, namun imannya membuatnya yakin bahwa itu telah terjadi meski belum melihat langsung. Dalam ayat 13 tadi kita bisa membaca apa yang terjadi. Ya, hambanya memang sembuh saat itu juga!
Iman yang teguh akan membuat kita bisa menerima berkat dan mujizat Tuhan. Bukan atas kehebatan manusia, melainkan iman akan Kristus-lah yang menyelamatkan.
Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barang siapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:23-24).
Percaya dalam iman yang teguh, maka kita akan menerima. Kemudian ingatlah bahwa semua itu haruslah sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak kita. "Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya." (1 Yohanes 5:14-15). Itu janji Tuhan dan kita tahu janji Tuhan itu "ya dan amin".
Belajar dari iman perwira Kapernaum hari ini, milikilah iman yang sungguh-sungguh, dan percayalah sepenuhnya pada Tuhan. Jangan menggantungkan diri kepada sosok manusia yang terbatas, tapi berpeganglah pada Tuhan yang punya kuasa di atas segalanya.
"Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya."
MISKIN DI HADAPAN TUHAN
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga" (Matius 5:3)
Sudah terlalu sering kita mendengar kalimat "money can't buy happiness". Dalam perjalanan hidup kita, sering kali kita menjumpai kehancuran dan keretakan rumah tangga, justru ketika kemakmuran mencapai puncaknya. Selidik punya selidik, ketika uang tidak lagi menjadi problem, manusia cenderung mempergunakan uang mereka untuk hal-hal yang mendatangkan dosa. Mungkin, kalau kita jujur, banyak dari kita yang meluangkan waktu untuk berdoa lebih banyak ketika kita ditimpa masalah, daripada saat kita mendapat berkat dan menikmati kelimpahan. Ada banyak cerdik dan orang kaya, rasa-rasanya mereka tidak mungkin kekurangan apapun, tetapi batinnya menderita dan tidak bahagia. Disisi lain, ada banyak orang miskin dan hidup pas-pasan, tetapi jiwa mereka dipenuhi sukacita. Tapi apakah semua orang kaya pasti menderita, dan orang miskin pasti bahagia? Tidak juga kan? Saya lalu sampai pada satu asumsi, bahwa apapun yg kita usahakan itu tidak akan bisa mendatangkan kebahagiaan yang sebenarnya, karena kebahagiaan sejati itu hanya ada di dalam mereka yang hidup di dalam Tuhan. Artinya, kaya atau miskin, selama ada Roh Allah menyala di dalam hidup kita, kita akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dan kedamaian yang abadi.
Injil Matius 5 ini bercerita tentang pengajaran Yesus kepada murid-muridNya, di atas bukit mengenai jalan menuju bahagia. Orang yang miskin ini disebutkan paling awal bukan tanpa sebab. Kemiskinan di sini, bukan diartikan kepada hal materiel, tetapi lebih kepada rohani. Dalam artian, apabila kita tetap merasa "miskin" dan ingin memperoleh lebih banyak lagi kekayaan rohani, kita akan senantiasa mencari Tuhan. Miskin, yang diartikan sebagai rasa rendah hati, tidak berlebihan dan selalu haus akan Tuhan.
Di dalam injil disebutkan bahwa Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya di ATAS bukit.. ini berbicara mengenai suatu level tertentu, di mana kita bisa menikmati berbagai berkat yang dicurahkan dari atas, tentunya dengan 9 syarat yang selanjutnya disebutkan Yesus Kristus satu persatu.
Pertanyaannya sekarang, apabila kita diberkati secara berlimpah, sanggupkah kita untuk tetap hidup "miskin" dan mencari lebih lagi kekayaan rohani dari Tuhan? dan pertanyaan lain, apabila kita belum mampu hidup layak, sanggupkah kita untuk tetap bersyukur dan mencari Tuhan? Ingat, Tuhan selalu mencukupi tepat pada waktunya, asal kita melakukan kewajiban kita. Jadi poin nya di sini adalah, kaya atau miskin, selama kita hidup dalam Tuhan, dan berusaha terus naik hingga suatu level tertentu seperti di "atas" bukit, berbagai mukjizat, berkat, dan malah kunci kerajaan surga, semua itu bukan hal mustahil bagi kita.
Kemiskinan membuat kita semakin giat berusaha, lakukan itu buat Tuhan, dan biarkan Dia bekerja dalam hidup kita.
Sudah terlalu sering kita mendengar kalimat "money can't buy happiness". Dalam perjalanan hidup kita, sering kali kita menjumpai kehancuran dan keretakan rumah tangga, justru ketika kemakmuran mencapai puncaknya. Selidik punya selidik, ketika uang tidak lagi menjadi problem, manusia cenderung mempergunakan uang mereka untuk hal-hal yang mendatangkan dosa. Mungkin, kalau kita jujur, banyak dari kita yang meluangkan waktu untuk berdoa lebih banyak ketika kita ditimpa masalah, daripada saat kita mendapat berkat dan menikmati kelimpahan. Ada banyak cerdik dan orang kaya, rasa-rasanya mereka tidak mungkin kekurangan apapun, tetapi batinnya menderita dan tidak bahagia. Disisi lain, ada banyak orang miskin dan hidup pas-pasan, tetapi jiwa mereka dipenuhi sukacita. Tapi apakah semua orang kaya pasti menderita, dan orang miskin pasti bahagia? Tidak juga kan? Saya lalu sampai pada satu asumsi, bahwa apapun yg kita usahakan itu tidak akan bisa mendatangkan kebahagiaan yang sebenarnya, karena kebahagiaan sejati itu hanya ada di dalam mereka yang hidup di dalam Tuhan. Artinya, kaya atau miskin, selama ada Roh Allah menyala di dalam hidup kita, kita akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dan kedamaian yang abadi.
Injil Matius 5 ini bercerita tentang pengajaran Yesus kepada murid-muridNya, di atas bukit mengenai jalan menuju bahagia. Orang yang miskin ini disebutkan paling awal bukan tanpa sebab. Kemiskinan di sini, bukan diartikan kepada hal materiel, tetapi lebih kepada rohani. Dalam artian, apabila kita tetap merasa "miskin" dan ingin memperoleh lebih banyak lagi kekayaan rohani, kita akan senantiasa mencari Tuhan. Miskin, yang diartikan sebagai rasa rendah hati, tidak berlebihan dan selalu haus akan Tuhan.
Di dalam injil disebutkan bahwa Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya di ATAS bukit.. ini berbicara mengenai suatu level tertentu, di mana kita bisa menikmati berbagai berkat yang dicurahkan dari atas, tentunya dengan 9 syarat yang selanjutnya disebutkan Yesus Kristus satu persatu.
Pertanyaannya sekarang, apabila kita diberkati secara berlimpah, sanggupkah kita untuk tetap hidup "miskin" dan mencari lebih lagi kekayaan rohani dari Tuhan? dan pertanyaan lain, apabila kita belum mampu hidup layak, sanggupkah kita untuk tetap bersyukur dan mencari Tuhan? Ingat, Tuhan selalu mencukupi tepat pada waktunya, asal kita melakukan kewajiban kita. Jadi poin nya di sini adalah, kaya atau miskin, selama kita hidup dalam Tuhan, dan berusaha terus naik hingga suatu level tertentu seperti di "atas" bukit, berbagai mukjizat, berkat, dan malah kunci kerajaan surga, semua itu bukan hal mustahil bagi kita.
Kemiskinan membuat kita semakin giat berusaha, lakukan itu buat Tuhan, dan biarkan Dia bekerja dalam hidup kita.
B E R B U A H
Setiap ranting ... dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah (Yohanes 15:2)
Apa yang paling dinanti-nantikan oleh seorang pengusaha kebun anggur? Buah! Tak ada yang lain! Tidak ada pengusaha yang menanam anggur hanya sebagai tanaman hias. Pengusaha tidak mengharap tanaman anggurnya berdaun lebat, beranting banyak dan memiliki bentuk indah, tetapi tidak berbuah.
Dalam Yohanes 15:1-8, di sana Yesus berkata berulang kali bahwa Dia adalah pokok anggur dan kita ini carang-carang-Nya. Pengusaha kebun anggur yakni Bapa di surga, hanya mencari satu hal yang terpenting dari hidup kita, yakni kehidupan yang berbuah! Sebagai carang dan menjadi bagian dari tanaman anggur, kita dituntut untuk berbuah.
Sayangnya, kita kerap tidak berorientasi pada kekristenan yang menghasilkan buah. Kita lebih suka menciptakan tanaman anggur yang memiliki bentuk indah, layaknya tanaman hias. Kerajinan kita di gereja bisa membuat banyak orang kagum. Pelayanan kita di gereja juga bisa membuat banyak orang salut. Belum lagi bahasa rohani yang kita pakai sangat alkitabiah. Sungguh, tanaman anggur yang tampak indah. Berdaun lebat dan memiliki penampilan yang membanggakan! Sayang, tanaman anggur yang indah belum tentu menghasilkan buah.
Dengan kekristenan seperti ini, sia-sia seseorang mengikut Yesus. Tuhan lebih memperhatikan, adakah kita selama menjadi pengikut-Nya, menghasilkan buah? Adakah mulut dan sikap kita sehari-hari memuliakan Tuhan dan memberkati sesama? Adakah hidup kita menjadi kesaksian nyata berjalan bersama Kristus? Adakah jiwa-jiwa yang kita bimbing dengan kasih untuk mengenal dan setia kepada Kristus?
YANG TERPENTING DARI TANAMAN ANGGUR BUKAN PENAMPILANNYA MELAINKAN BUAH-BUAHNYA!
GOD bless U
Apa yang paling dinanti-nantikan oleh seorang pengusaha kebun anggur? Buah! Tak ada yang lain! Tidak ada pengusaha yang menanam anggur hanya sebagai tanaman hias. Pengusaha tidak mengharap tanaman anggurnya berdaun lebat, beranting banyak dan memiliki bentuk indah, tetapi tidak berbuah.
Dalam Yohanes 15:1-8, di sana Yesus berkata berulang kali bahwa Dia adalah pokok anggur dan kita ini carang-carang-Nya. Pengusaha kebun anggur yakni Bapa di surga, hanya mencari satu hal yang terpenting dari hidup kita, yakni kehidupan yang berbuah! Sebagai carang dan menjadi bagian dari tanaman anggur, kita dituntut untuk berbuah.
Sayangnya, kita kerap tidak berorientasi pada kekristenan yang menghasilkan buah. Kita lebih suka menciptakan tanaman anggur yang memiliki bentuk indah, layaknya tanaman hias. Kerajinan kita di gereja bisa membuat banyak orang kagum. Pelayanan kita di gereja juga bisa membuat banyak orang salut. Belum lagi bahasa rohani yang kita pakai sangat alkitabiah. Sungguh, tanaman anggur yang tampak indah. Berdaun lebat dan memiliki penampilan yang membanggakan! Sayang, tanaman anggur yang indah belum tentu menghasilkan buah.
Dengan kekristenan seperti ini, sia-sia seseorang mengikut Yesus. Tuhan lebih memperhatikan, adakah kita selama menjadi pengikut-Nya, menghasilkan buah? Adakah mulut dan sikap kita sehari-hari memuliakan Tuhan dan memberkati sesama? Adakah hidup kita menjadi kesaksian nyata berjalan bersama Kristus? Adakah jiwa-jiwa yang kita bimbing dengan kasih untuk mengenal dan setia kepada Kristus?
YANG TERPENTING DARI TANAMAN ANGGUR BUKAN PENAMPILANNYA MELAINKAN BUAH-BUAHNYA!
GOD bless U
Langganan:
Postingan (Atom)