Rabu, 04 Mei 2016

Ban Yang Mana

Bacaan: Kisah 5:1-11

NATS: Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah (Kisah 5:4)

Pada suatu hari yang cerah, empat orang siswa SMA tidak dapat menahan godaan untuk membolos sekolah. Keesokan harinya mereka menjelaskan kepada guru mereka bahwa mereka tidak masuk sekolah karena salah satu ban mobil mereka kempes. Mereka lega ketika guru itu tersenyum dan berkata, "Ya, kalian ketinggalan mengikuti kuis kemarin." Namun kemudian ia menambahkan, "Duduklah dan keluarkan pensil serta kertas. Pertanyaan pertama: Ban mana yang kempes?"

Tidak seorang pun dapat lolos karena berbohong. Dalam Kisah Para Rasul 5, Ananias dan Safira mengira mereka hanya berbohong kepada Petrus dan jemaat lainnya. Namun rasul itu berkata, "Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah" (ayat 4).

Kebenaran adalah salah satu sifat Allah. Jadi apabila kita berdusta, kita menyakiti hati-Nya. Dan cepat atau lambat Dia akan mengungkapkan semua kepalsuan -- bila tidak dalam kehidupan saat ini, maka akan terungkap pada saat pengadilan terakhir, ketika kita masing-masing memberi pertanggungjawaban atas perbuatan kita sendiri kepada Allah (Roma 14:10-12).

Kita hidup dalam dunia persaingan yang ketat, dan terkadang kita dapat begitu tergoda untuk menggelapkan kebenaran agar dapat terus maju. Akan tetapi, kenikmatan sesaat karena berbohong tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan keuntungan jangka panjang karena mengatakan kebenaran.

Bila Anda menipu seseorang, akuilah itu kepadanya dan kepada Tuhan. Memang kita harus merendahkan diri, tetapi ini adalah langkah awal untuk mengembalikan kejujuran dalam hidup Anda

BILA ANDA SELALU BERKATA JUJUR
ANDA TIDAK AKAN PERNAH TERJEBAK DALAM KEBOHONGAN

Hanya Ada Satu Pintu

Bacaan: Yohanes 10:7-10

NATS: Akulah pintu; barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat (Yohanes 10:9)

Seorang ahli Perjanjian Lama bernama Sir George Adam Smith mengatakan bahwa ketika ia mengunjungi Tanah Suci, ia melihat seorang gembala dan dombanya berdiri di depan benteng. Tidak ada pintu terlihat di sana. Di situ yang tampak hanyalah sebuah lubang sebesar tubuh manusia.

Smith kemudian bertanya kepada gembala tersebut mengapa di sana tidak ada pintu. Gembala itu menjelaskan, "Sayalah jalan masuknya. Saya berdiri di lubang itu, dan domba lewat di bawah saya memasuki benteng. Apabila mereka semua sudah berada di dalam dengan aman, maka saya akan berbaring melintang pada lubang itu. Tidak akan ada pencuri yang dapat masuk dan juga tidak ada domba yang bisa keluar kecuali melewati tubuh saya. Sayalah jalan masuknya."

Kita seperti domba yang memerlukan Gembala (1 Petrus 2:25). Untuk jalan masuk ke surga, tempat kebahagiaan kekal, Yesus memberikan pernyataan yang mengagumkan ini: "Akulah pintu ke domba-domba itu .... barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat" (Yohanes 10:7-9). Orang-orang yang mendengar-Nya pada saat itu tidak membayangkan pintu dari kayu yang tergantung pada engsel. Mereka memahami bahwa Dia benar-benar mengatakan, "Akulah jalan masuk ke rumah Allah." Dia dapat mengklaim diri-Nya sebagai jalan menuju kebahagiaan kekal, jalan khusus menuju kemuliaan Allah, karena Dialah Putra Allah.

Yesus merupakan satu-satunya jalan menuju surga (Yohanes 14:6). Kita dapat masuk ke sana hanya jika meletakkan iman kepada-Nya

ADA BANYAK JALAN KE NERAKA
TETAPI HANYA ADA SATU JALAN KE SURGA

Kamis, 28 April 2016

Di Angkat Dari Dasar Lubang Kegelapan

Bacaan: Mazmur 40:2-6

NATS: Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lubang kebinasaan (Mazmur 40:2,3)

Sebuah kapal selam Inggris mengalami kerusakan di dasar lautan. Beberapa hari berlalu dan awak kapal kehilangan pengharapan akan mendapat pertolongan. Kemungkinan munculnya pertolongan pupus karena mereka belum dapat memberitahukan posisi mereka yang pasti pada kapal yang ada di permukaan laut. Sang kapten yang berwibawa kemudian menjelaskan kepada awak kapalnya bahwa tak lama lagi mereka akan mati, dan ia menyarankan agar mereka menyanyikan sebuah kidung pujian. Lalu bersama-sama mereka pun menyanyikan lagu ini: "Kegelapan semakin pekat -- Tuhan, tinggallah bersamaku."

Ketika persediaan oksigen mulai habis, kondisi mereka pun semakin lemah. Seorang pelaut yang tubuhnya melemah lebih cepat dari yang lain terhuyung-huyung maju, menabrak peralatan kapal yang berfungsi untuk mengapungkan kapal ke permukaan air. Tiba-tiba mesin yang tidak berfungsi mulai bekerja, dan perlahan-lahan kapal terangkat dari dasar laut. Mereka semua kembali ke pelabuhan dengan selamat.

Pembebasan yang lebih hebat dari lautan yang sesungguhnya adalah pemeliharaan Allah bagi mereka yang terjebak dalam samudera ketidakpercayaan. Hanya mukjizat anugerahlah yang dapat mengangkat kita dari lubang dosa dan kecemaran.

Bila Anda terjebak di dalam cengkeraman dosa, hanya Yesuslah yang dapat memberi Anda awal yang baru. Jika Anda memercayai Sang Juru Selamat, maka Anda akan diangkat dari "perairan" penghakiman dan dapat masuk ke dalam terang pengampunan Allah --

ANUGERAH ALLAH DAPAT MENGANGKAT ANDA
DARI KONDISI GENTING DOSA KE DALAM TERANG KESELAMATAN

Selasa, 02 Juni 2015

SEMANGKA KOTAK

Bacaan: Roma 12:1-5 

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,
demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.

NATS: Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (Roma 12:2)

Para petani di Zentsuji, Jepang, sedang berupaya mempersiapkan pengiriman semangka yang sudah matang. Semangka yang mereka miliki ini benar-benar unik. Semangka-semangka itu berbentuk kotak! Hal itu terjadi karena pada masa pertumbuhannya, semangka itu diletakkan di dalam kotak kaca yang keras. Untuk apa sih orang menginginkan semangka kotak? Supaya lebih mudah disimpan dalam lemari es! Suatu hal yang sungguh mengherankan jika semangka yang pada umumnya bulat dapat diubah menjadi kotak menurut wadah tempat ia bertumbuh. Kemudian saya teringat pada kekuatan-kekuatan dunia yang juga memasukkan pengaruhnya dalam hidup kita dan berusaha membentuk kita. Karena itu Rasul Paulus dalam Roma 12:2 menasihati kita agar tidak menjadi "serupa dengan dunia ini," tetapi "berubah oleh pembaruan budi [kita]." Idenya sederhana saja: Kita harus mengizinkan firman Allah bekerja di dalam diri kita sehingga kita dapat membuahkan hasil keluar. Sebaliknya kita harus pula menjaga agar jangan sampai tekanan dari luar membentuk kita. Jika kita merenungkan akan firman Tuhan setiap hari, maka firman-Nya akan mempengaruhi pikiran dan menolong kita untuk bertumbuh. Sehingga pada akhirnya, hari demi hari, kita dapat semakin menyerupai Yesus Kristus (2 Korintus 3:18). Dengan demikian perbuatan kita akan dapat menyenangkan hati-Nya. Sekalipun tekanan dunia terus mencoba membentuk sifat kita, hal itu tak akan berhasil jika Sabda Tuhan mengubah kita dari dalam

JIKA KITA DIUBAH OLEH FIRMAN ALLAH KITA TIDAK AKAN SERUPA DENGAN DUNIA

Sabtu, 16 Mei 2015

KRISTAL MURNI

Bacaan:
Mazmur 127:1-5 
Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.
Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah — sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.
Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.
Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.
Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang.

NATS: Anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah (Mazmur 127:3)

Salah seorang teman saya--sebut saja namanya “Tommy”--mengatakan bahwa kenangannya yang paling indah adalah ketika pada suatu pagi ia memecahkan kristal milik ibunya yang “tak ternilai harganya”. Saat itu ibunya hendak mengadakan sebuah pesta. Sang ibu mengeluarkan kristal murninya dari lemari dan dengan hati-hati mencucinya, kemudian meletakkannya di atas meja. Kristal itu adalah satu-satunya harta yang berharga milik sang ibu dan hanya dipergunakan pada acara-acara istimewa. Ketika sedang tergesa-gesa mempersiapkan segala sesuatu untuk para tamunya, sang ibu berkata kepada anak nya, Tommy, “Nak, carilah tempat yang tidak menghalangi orang berlalu-lalang.” Lalu Tommy pun merangkak ke kolong meja. Namun, kakinya menyenggol kaki meja sehingga kristal itu jatuh ke lantai. “Kristal itu hancur berantakan seperti pecahan peluru meriam,” kenangnya. Ia telah memecahkan barang terindah milik ibunya. “Maafkan aku, Bu,” isak anak kecil itu. Sang ibu merangkulnya sambil berbisik, “Jangan menangis, Sayang. Kamu jauh lebih berharga bagi Ibu daripada kristal itu.” Memang, anak-anak adalah harta kita yang paling berharga, lebih mulia daripada apa pun yang dapat kita beli atau peroleh. Mereka adalah “milik pusaka dari pada Tuhan”, dan merupakan “suatu upah” (Mazmur 127:3). Apakah anak-anak Anda mengetahui betapa berharganya mereka bagi Anda? Ungkapkanlah hal itu kepada mereka hari ini juga --

ANAK KECIL SANGAT BERHARGA BAGI ALLAH

Rabu, 13 Mei 2015

Menabur Benih Yang Baik

RENUNGAN

Hosea 10:12-15 

Menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan, menuailah menurut kasih setia! Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari TUHAN, sampai Ia datang dan menghujani kamu dengan keadilan.

Kamu telah membajak kefasikan, telah menuai kecurangan, telah memakan buah kebohongan.

Oleh karena engkau telah mengandalkan diri pada keretamu, pada banyaknya pahlawan-pahlawanmu,
maka keriuhan perang akan timbul di antara bangsamu, dan segala kubumu akan dihancurkan seperti Salman menghancurkan Bet-Arbel pada hari pertempuran: ibu beserta anak-anak diremukkan.

Demikianlah akan Kulakukan kepadamu, hai kaum Israel, oleh karena dahsyatnya kejahatanmu. Pada waktu fajar akan dilenyapkan sama sekali raja Israel.

NATS: Bukalah bagimu tanah baru, sebab sudah waktunya untuk mencari Tuhan (Hosea 10:12)

Sebagai penggarap kebun baru, saya belajar bahwa tanah yang belum dipupuk tidak baik untuk menumbuhkan tanaman. Namun, ketika saya menanam benih yang baik pada tanah yang dipupuk dengan baik, matahari dan hujan akan memelihara pertumbuhan sampai saat panen tiba. Tanah yang disiapkan dengan baik, benih yang baik, dan berkat Allah sangatlah penting untuk memperoleh panen melimpah. Itu tidak hanya berlaku dalam berkebun, tetapi juga dalam hidup orang kristiani. Hosea, nabi Allah, mengajarkan prinsip ini kepada umat Israel. Waktu itu mereka tidak mau berserah kepada Allah. Umat Israel justru menabur kejahatan dan mengandalkan diri sendiri. Kini mereka memakan buah kebohongan, terutama kebohongan bahwa keselamatan dan keberhasilan berasal dari kekuatan militer mereka sendiri (Hosea 10:13). Hosea mendesak bangsa Israel untuk mengikuti jalan Allah, menggemburkan hati mereka yang keras karena dosa dan "mencari Tuhan" (ayat 12). Jika mereka menabur benih kebenaran, maka mereka akan memetik belas kasih Allah dan Dia akan mencurahkan hujan berkat ke atas mereka. Apakah Anda tidak mau membuka hati bagi Allah serta firman-Nya? Apakah Anda lebih mengandalkan diri sendiri daripada Allah? Jika demikian, kini saat yang tepat bagi Anda untuk mencari Tuhan dengan pertobatan yang jujur, menabur perbuatan dan sikap yang baik, serta setia mengikuti jalan-Nya.

Yang terutama, bersandarlah pada kuasa-Nya dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Hidup Anda akan berbuah lebat

BUNGA ATAU ILALANG YANG TUMBUH ESOK ADALAH BENIH YANG KITA TABUR HARI INI

Sabtu, 09 Mei 2015

JIWA DAN DOMPET TEBAL

Bacaan:

Ibrani 13:5-6 

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." 
Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

NATS: Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu (Ibrani 13:5)

Kitab Ibrani memberi peringatan penting bagi kita yang hidup dengan nilai-nilai abad ke-21. "Janganlah kamu menjadi hamba uang," desak sang penulis, dan "cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu" (13:5). Ia tidak mengatakan bahwa memiliki kekayaan itu berdosa. Ia hanya mengatakan bahwa kekayaan dapat menimbulkan masalah.

Di dunia ini terdapat mitos bahwa kekayaan dan kepuasan selalu beriringan, sehingga keduanya seolah-olah sama. Namun banyak orang kaya yang menyombongkan rekeningnya di bank yang melimpah, ternyata tidak juga merasa puas. Mereka selalu ingin mengumpulkan lebih lagi, dan mereka selalu takut kehilangan apa yang telah mereka miliki. "Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu." Nah, apa yang Anda miliki? Apakah Anda langsung teringat pada rekening bank atau jabatan Anda? Bila ya, berarti Anda melihat hal yang salah.

Penulis Kitab Ibrani mengatakan bahwa jika Anda hidup dalam iman kepada Tuhan yang kekal, Anda akan memiliki Dia. Dia telah berjanji, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (13:5). Bila Anda memiliki Dia, dengan penuh keyakinan Anda dapat berkata, "Tuhan adalah Penolongku; aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (ayat 6). Jika Anda memiliki segala sesuatu kecuali Tuhan, sesungguhnya Anda tidak memiliki apa-apa. Namun jika Anda dapat menikmati kehadiran Allah sekalipun hanya memiliki sedikit harta benda, Anda akan puas. Lebih baik memiliki jiwa yang terpuaskan daripada dompet yang tebal

KEPUASAN SESUNGGUHNYA SANGAT TAK TERNILAI HARGANYA